Acara Fam Trip ini sendiri telah ditutup secara seremoni pada hari Selasa malam tanggal 2 November di Area terbuka Miga Beach Hotel, Kota Gunung oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Gunung Sitoli, Meiman Kristian Harefa, S.Sos, MSP didampingi Kasi Sadar Wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumut Dra.Elly Sary Sitepu.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Gunung Sitoli, Meiman Kristian Harefa, S.Sos, MSP mengapresiasi dan sangat berterimakasih kepada semua peserta Fam Trip dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Utara yang telah memberi perhatian terhadap promosi dan pengembangan kepariwisataan di Kepulauan Nias.”
Hari pertama FamTrip dimulai dengan mengunjungi Desa Wisata Hilisimaetano, Kabupaten Nias Selatan, Minggu (31/10/2021). Desa Hilisimaetano merupakan desa adat tertua di Kabupaten Nias Selatan yang mendapatkan penganugrahan sebagai desa wisata Indonesia 2021 oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Desa ini memiliki ragam atraksi budaya seperti Lompat Batu, Famadaya Harimau, Maluaya (Tari Perang), Hoho, Fogaele, dan Fo’ere. Selain itu terdapat juga susunan rumah adat yang masih terpelihara, rapi, dan tradisi kerajinan tangan yang masih dilakukan sampai sekarang. Seperti Anyaman, Pahatan, Ukiran, dan Pandai Besi (Manofa). Rombongan Fam Trip disambut sangat meriah dengan atraksi atraksi Budaya yang sangat luar biasa dari siang hingga malam hari.
Hari Kedua Rombongan mengunjungi Pantai Sorake, di Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan, Pantai Sorake juga dikenal sebagai salah satu tempat surfing terbaik di Dunia, bahkan disebut sebut nomor 2 terbaik setelah Hawai.
Selanjutnya, setelah dari Pantai Sorake rombongan bergerak ke Desa Bawomataluo, yang terletak di Kecamatan Fanayama, Telukdalam, Kabupaten Nias Selatan.
Desa Bawomataluo diperkirakan sudah ada sejak abad ke-18. Desa ini berada pada ketinggian 270 meter di atas permukaan laut.
Saat memasuki desa ini, Rombongan disambut dengan tangga beton yang menyerupai punden berundak-undak dengan jumlah anak tangga tahap pertama 7 buah sedangkan, tangga tahap kedua berjumlah 70 buah. Rumah-rumah di desa ini saling berhadapan dengan jalan berada di tengah membentang ditengah. Pada bagian tengah kompleks terdapat halaman yang terbuat dari susunan batu yang digunakan sebagai tempat pelaksanaan upacara adat dan ritual.
Setelah beristirahat makan siang,masih dihari kedua Fam Trip, rombongan bergerak menuju Desa Adat Hilinawalo Batusalawa, masih di Kabupaten Nias Selatan. Masih sama dengan perkampungan adat di Desa Hilisimaetano,dan Desa Bawomataluo, rumah rumah adat disini berjejer berhadapan dengan jalan lebar berada ditengah. Kali ini rombongan disambut penari penari adat cilik, dan diiringi musik tradisional Nias.
Tidak jauh dari perkampungan Hilinawalo rombongan diajak menuju air terjun Sihugo – Hugo.Air terjun yang berasal dari sumber mata air alami langsung dari pegunungan .Wisata dengan kemah juga dipersiapkan di sekitar air Terjun SiHugo- Hugo ini.
Selanjutnya di Hari Ke Tiga, rombongan menuju Desa Tumori. Desa Tumori adalah salah satu desa di Kecamatan Gunungsitoli Barat, Kota Gunungsitoli. Yafaowolo Gea dari Dinas Pariwisata Gunung Sitoli menjelaskan bahwa Desa Tumori mempunyai bentuk rumah adat yang berbeda dari Rumah Adat di Nias Selatan. Kalau di Nias Selatan Rumat Adatnya persegi Panjang ,maka di Desa Tumori ini Rumah Adatnya berbentuk Oval, dan menurut ahli arsitektur yang mempelajari tentang rumah adat di Asia, Rumah Adat Omo Hadalaraga yang berada di Desa Tumori ini sudah berusia lebih dari 100 tahun dan merupakan Finest Vernacular Architecture in Asia ( Rumah Adat Terbaik di Asia ) karena berbentuk oval dan pondasi tidak berada di dalam tanah, namun diletakkan diatas batu agar tahan gempa dan tsunami. Ada sekitar 10 Rumah Adat Omo Hadalaraga di Desa Tumori ini.
Masih di hari yang sama tujuan selanjutnya ke Museum Pusaka Nias . Museum Pusaka Nias terletak di Jl. Yos Sudarso no.134-A, Kota Gunung Sitoli. Museum pusaka Nias didirikan oleh seorang Pastor, Namanya Pastor Johanes pada tahun 1995. Ruang pameran terdiri atas 5 ruangan.
Ruangan pertama berisi tentang keagungan masa lalu. Peralatan penyuguhan sirih sebagai penghormatan kepada tamu,perhiasan dari emas,dll.
Ruangan kedua berisi tentang bukti-bukti material yang digunakan dalam pesta seputar kejelasan dan peneguhan status.Berisi berbagai perhiasan dan barang-barang berharga lainnya, peralatan dapur, dan peralatan jamuan yang terbuat dari kayu, batu, dan keramik.
Ruangan ketiga berisi tentang peralatan tentang keseharian. Peralatan rumah tangga, hingga teknologi rumah tangga, kesenian, pertanian, pertukangan, perburuan kepala manusia, perburuan hewan untuk makanan dan lain sebagainya
Ruangan Keempat berisi tentang peristiwa penting dalam kehidupan orang Nias yang diabadikan melalui batu.
Ruangan kelima berisi tentang kegiatan pameran temporer, ceramah, audio visual, diskusi untuk pendidikan pusaka bagi pengunjung, dan lainnya.
Tujuan terakhir Rombongan di hari ketiga menuju Pantai Tureloto Pantai yang terletak di Kecamatan Laweha, Kabupaten Nias Utara ini dikenal sebagai Laut Mati-nya Nias. Di sini, Anda bisa merasakan sensasi mengapung di pantai tanpa harus jauh-jauh datang ke Yordania.
Kordinator Harian GenPI Sumut mengatakan ” terima kasih sebesar-besarnya GenPI Sumut ucapkan kepada Disbudpar Sumut yang sudah mengajak GenPI Sumut Dalam Kegiatan famtrip ke Pulau Nias, kita kenal Pulau Nias Memiliki sejuta keindaan pantainya dan keunikan Budayanya, ini yang menjadi keingginan kami terus membuat konten yang dapat kami publis dimedia sosial dan kami ucapkan terima kasih kepada Disporabudpar Nias Selatan atas jamuan yang sangat luar biasa” ungkapnya.
No comments:
Post a Comment